1.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Tiadalah kehidupan pasti menemui kematian, tiadalah perkumpulan pasti menemui perpisahan"
2.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Satu hembusan nafasmu , ialah selangkah menuju ajal"
3.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Beruntunglah dan tiada yang lebih beruntung kecuali para Pecinta Sayyidina Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam"
4.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Tiadalah yang lebih ditakuti Syaiton , para Jin, dan Iblis melebihi hati yang berdzikir. Ketika hati sedang ingat Allah , itulah yang paling ditakuti oleh Syaithon"
5.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Tak ada yang lebih cepat mendatangkan keridhoan Allah SWT. Melainkan bakti kepada Ayah dan Ibunda"
6.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Sunnguh tiada Hadiah yang lebih Agung dari doa"
7.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Ketahuilah bahwa peristiwa yang disebut (Kematian) justru itulah Hakikat kehidupan yang abadi"
8.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Ketahuilah bahwa cinta Allah , Allah titipkan kepada Sesosok Manusia yang bernama Sayyidina Muhammad Saw."
9.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Ketahuilah bahwa tuntunan terindah ialah tuntunan Nabi ku dan Nabi kita semua yaitu (Sayyidina Muhammad Saw)."
10.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Semakin tinggi kepahaman seseorang tentang Allah SWT , maka semakin tinggi derajatnya, semakin mulia sujudnya semakin mulia satu huruf yang keluar dari lidahnya didalam berdzikir, semakin termuliakan shalatnya , semakin termuliakan ibadahnya."
11.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Walaupun di Dunia tidak berjumpa dengan Rasulullah Saw, barangkali orang yang sangat rindu kepada Rasulullah sebelum ia ditanya oleh Malaikat, maka Rasulullah SAW akan berkata "dia ummatku, dia ummatku, dia ummatku", karena apa? karena Rasulullah telah merindukannya, Rasulullah SAW telah bersabda riwayat Sahih Muslim bahwa beliau SAW rindu dengan saduara-saudara beliau, yaitu mereka yang hidup setelah beliau wafat, tetapi mereka sangat ingin berjumpa dengan beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam, dan mencintai beliau lebih dari harta dan keluarganya."
12 .)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Bersyukur atas kenikmatan , Bersabar atas Musibah"
13.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "perindahlah siang-siang hari kita pada bulan Ramadhan dengan puasa dan ibadah lainnya, serta hiasilah dan sempurnakan malam-malamnya dengan memperbanyak shalat tarawih dan membaca Al qur’an."
14.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: Do'a kita pun kepada Saudara/i kita adalah sedekah, sebagaimana yang disabdakan Oleh Sayyidina Muhammad Saw : "Semua yang baik adalah sedekah".
15.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: : "Getarkanlah bibirmu ketika menyebut nama Yang Maha Agung (Fukullu Jami'an Ya Allah...Ya Allah...Ya Allah)"
16.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berpesan : "Jadikanlah mulai saat ini Dzikir menjadi sebuah kebutuhan kita, sebagaimana kita membutuhkan makan."
17.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata : "Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda riwayat shahih Muslim...
"tiada akan datang hari kiamat selama masih ada di muka bumi yang memanggil nama ALLAH, ALLAH" (Shahih Muslim)
18.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata : "Cinta Allah itu, Allah titipkan pada sesosok Makhluk yang bernama Sayyidina Muhammad Saw"
19.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Tiadalah yang lebih ditakuti Syaiton , para Jin, dan Iblis melebihi hati yang berdzikir. Ketika hati sedang ingat Allah , itulah yang paling ditakuti oleh Syaithon"
20.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata :"Kematian adalah guru terbaik dalam kehidupan, sedikit saja kita lalai dari mengingat kematian maka kita akan kehilangan guru terbaik dalam kehidupan…
Dia datang dengan tiba-tiba tanpa kenal permisi.. Apakah kita siap menyambut kedatangan sang malaikat maut ? adakah kita siap menyongsong malam pertama di alam kubur?….
21.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Semakin tinggi kepahaman seseorang tentang Allah SWT , maka semakin tinggi derajatnya, semakin mulia sujudnya semakin mulia satu huruf yang keluar dari lidahnya didalam berdzikir, semakin termuliakan shalatnya , semakin termuliakan ibadahnya."
22.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Kita bangkit dengan kelembutan , bukan dengan kekerasan."
23.)Al Habib Munzir berpesan agar selalu menjadikan sabar dan do'a sebagai senjata terdahsyat dalam kehidupan ku dan kalian.
24.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata : ''Bila semua yang dialam semesta ini membenciku , Demi ke Agungan-Mu asalkan Engkau tidak murka kepadaku, makaaku tidak perduli".
25.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Cinta Allah subhanahu wata’ala tersimpan pada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa hambaNya karena mengikuti kekasihNya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang diperintah oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga memenuhi panggilan beliau merupakan hal yang wajib dalam keadaan apapun, sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika seorang sahabat sedang melakukan shalat, di saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya, namun dia melanjutkan shalatnya kemudian setelah selesai ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya : “Kemanakah engkau, aku memanggilmu namun kau tidak juga datang?”, maka ia menjawab : “Wahai Rasulullah tadi aku sedang melakukan shalat”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman” : “ Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan”.
( QS. Al Anfaal : 24 ) "
26.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Saudara/i ku bahwa Rasulullah Saw telah bersabda “ Sesungguhnya perbuatan (tergantung) dengan niatnya”
Semakin luhur niat seseorang dalam perbuatannya, maka akan semakin mulia anugerah yang akan didapatkannya dari Allah subhanahu wata’a, sebaliknya semakin buruk niat dalam perbuatannya maka akan semakin terjatuh dalam jurang kehinaan. Allah subhanahu wata’ala berfirman : “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. ( QS. At Tiin : 4-6 )"
This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Kata Mutiara Hikmah Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa
1.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Tiadalah kehidupan pasti menemui kematian, tiadalah perkumpulan pasti menemui perpisahan"
2.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Satu hembusan nafasmu , ialah selangkah menuju ajal"
3.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Beruntunglah dan tiada yang lebih beruntung kecuali para Pecinta Sayyidina Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam"
4.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Tiadalah yang lebih ditakuti Syaiton , para Jin, dan Iblis melebihi hati yang berdzikir. Ketika hati sedang ingat Allah , itulah yang paling ditakuti oleh Syaithon"
5.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Tak ada yang lebih cepat mendatangkan keridhoan Allah SWT. Melainkan bakti kepada Ayah dan Ibunda"
6.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Sunnguh tiada Hadiah yang lebih Agung dari doa"
7.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Ketahuilah bahwa peristiwa yang disebut (Kematian) justru itulah Hakikat kehidupan yang abadi"
8.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Ketahuilah bahwa cinta Allah , Allah titipkan kepada Sesosok Manusia yang bernama Sayyidina Muhammad Saw."
9.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Ketahuilah bahwa tuntunan terindah ialah tuntunan Nabi ku dan Nabi kita semua yaitu (Sayyidina Muhammad Saw)."
10.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Semakin tinggi kepahaman seseorang tentang Allah SWT , maka semakin tinggi derajatnya, semakin mulia sujudnya semakin mulia satu huruf yang keluar dari lidahnya didalam berdzikir, semakin termuliakan shalatnya , semakin termuliakan ibadahnya."
11.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Walaupun di Dunia tidak berjumpa dengan Rasulullah Saw, barangkali orang yang sangat rindu kepada Rasulullah sebelum ia ditanya oleh Malaikat, maka Rasulullah SAW akan berkata "dia ummatku, dia ummatku, dia ummatku", karena apa? karena Rasulullah telah merindukannya, Rasulullah SAW telah bersabda riwayat Sahih Muslim bahwa beliau SAW rindu dengan saduara-saudara beliau, yaitu mereka yang hidup setelah beliau wafat, tetapi mereka sangat ingin berjumpa dengan beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam, dan mencintai beliau lebih dari harta dan keluarganya."
12 .)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Bersyukur atas kenikmatan , Bersabar atas Musibah"
13.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "perindahlah siang-siang hari kita pada bulan Ramadhan dengan puasa dan ibadah lainnya, serta hiasilah dan sempurnakan malam-malamnya dengan memperbanyak shalat tarawih dan membaca Al qur’an."
14.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: Do'a kita pun kepada Saudara/i kita adalah sedekah, sebagaimana yang disabdakan Oleh Sayyidina Muhammad Saw : "Semua yang baik adalah sedekah".
15.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: : "Getarkanlah bibirmu ketika menyebut nama Yang Maha Agung (Fukullu Jami'an Ya Allah...Ya Allah...Ya Allah)"
16.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berpesan : "Jadikanlah mulai saat ini Dzikir menjadi sebuah kebutuhan kita, sebagaimana kita membutuhkan makan."
17.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata : "Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda riwayat shahih Muslim...
"tiada akan datang hari kiamat selama masih ada di muka bumi yang memanggil nama ALLAH, ALLAH" (Shahih Muslim)
18.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata : "Cinta Allah itu, Allah titipkan pada sesosok Makhluk yang bernama Sayyidina Muhammad Saw"
19.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Tiadalah yang lebih ditakuti Syaiton , para Jin, dan Iblis melebihi hati yang berdzikir. Ketika hati sedang ingat Allah , itulah yang paling ditakuti oleh Syaithon"
20.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata :"Kematian adalah guru terbaik dalam kehidupan, sedikit saja kita lalai dari mengingat kematian maka kita akan kehilangan guru terbaik dalam kehidupan…
Dia datang dengan tiba-tiba tanpa kenal permisi.. Apakah kita siap menyambut kedatangan sang malaikat maut ? adakah kita siap menyongsong malam pertama di alam kubur?….
21.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Semakin tinggi kepahaman seseorang tentang Allah SWT , maka semakin tinggi derajatnya, semakin mulia sujudnya semakin mulia satu huruf yang keluar dari lidahnya didalam berdzikir, semakin termuliakan shalatnya , semakin termuliakan ibadahnya."
22.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Kita bangkit dengan kelembutan , bukan dengan kekerasan."
23.)Al Habib Munzir berpesan agar selalu menjadikan sabar dan do'a sebagai senjata terdahsyat dalam kehidupan ku dan kalian.
24.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata : ''Bila semua yang dialam semesta ini membenciku , Demi ke Agungan-Mu asalkan Engkau tidak murka kepadaku, makaaku tidak perduli".
25.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Cinta Allah subhanahu wata’ala tersimpan pada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa hambaNya karena mengikuti kekasihNya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang diperintah oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga memenuhi panggilan beliau merupakan hal yang wajib dalam keadaan apapun, sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika seorang sahabat sedang melakukan shalat, di saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya, namun dia melanjutkan shalatnya kemudian setelah selesai ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya : “Kemanakah engkau, aku memanggilmu namun kau tidak juga datang?”, maka ia menjawab : “Wahai Rasulullah tadi aku sedang melakukan shalat”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman” : “ Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan”.
( QS. Al Anfaal : 24 ) "
26.)Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Saudara/i ku bahwa Rasulullah Saw telah bersabda “ Sesungguhnya perbuatan (tergantung) dengan niatnya”
Semakin luhur niat seseorang dalam perbuatannya, maka akan semakin mulia anugerah yang akan didapatkannya dari Allah subhanahu wata’a, sebaliknya semakin buruk niat dalam perbuatannya maka akan semakin terjatuh dalam jurang kehinaan. Allah subhanahu wata’ala berfirman : “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. ( QS. At Tiin : 4-6 )"
Teks qasidah Uktum Hawana karya Syaikh Abu Bakar bin Salim
يـَـا رَ بَّ مَـكَّــة َ وَ الــصَّـــفَـا بِـمُـحَــــمَّـدٍ
اِغْــفِـرْ لَـــنَـا يـَا سَــا مِــعًـا لِــدُعَـانَـا
Wahai Pemilik Makkah dan Bukit Shafa, demi Muhammad,
Ampuni dosa kami Wahai Yang Maha Mendengar do’a kami.
اُ كْـــتُمْ هَـــوَ انَ اِنْ أَرَ دْ تَ رِ ضَـــانَ
وَ احْــذَرْ تُـــبِـيْــحُ بــِسِرِّ نَـا لِـسِـوَ انَـا
Sembunyikanlah Kecintaan kepada kami apabila engkau menginginkan restu kami (para wali Allah),
Dan jagalah agar kau tak sesumbarkan apa-apa yang kau ketahui dari Kemuliaan kami.
وَ اخْــضَـعْ لَــنـَـا إِنْ كُـــنـْتَ رَ اجِــيَ وَ صْــلِــنـَـا
وَ اتْـرُ كْ مُـنــَـاكَ إِنْ أَرَ دْ تَ مُـنـَـانَـا
Tunduk dan panutlah kami apabila kau menginginkan bergabung dengan kami,
Dan tinggalkanlah cita-cita kosongmu apabila engkau menginginkan apa yang kami cita-citakan.
وَ اجْـــعَـلْ وُ قُــوْ فَــكَ مَــا بـَــقـِـــيْتَ بِــبَـابِــــنَـا
فَـــلَـــعَــلَّ اَنْ تـُحْــظَـى بـِـــنَـا وَ تَـرَ انَـا
Dan jadikanlah sisa usiamu kini untuk berada di pintu-pintu kami,
Maka semoga engkau akan mendapatkan anugerah dengan kedekatan kepada kami.
أَ وَ مـَــا عَـــلِــمْـتَ بِـأَ نَّـــنـَـا أَهْـــلُ الْـــوَ فَـــا
وَ مـُـحِــبــُّــــنَـا مَــا ذَ الَ تـَـحْــــتَ لِـــوَ انَــا
Apakah kalian tidak mengetahui, bahwa kami selalu bermurah hati,
Dan semua yang mencintai kami akan selalu di bawah panji kami.
فَـــإِ ذَا قَـــضَـيْتَ حُــقُــوْ قَـــنَـا يـَـا مُــدَّ عِــى
عَـــا يـَــنـْــتــَــــنَـا فِـى الْـكَــا ئــِــنـَـاتِ عِـيـَـانَـا
Apabila kalian jalankan permintaan kami ini, wahai yang menginginkan kemuliaan kami,
Maka kalian pasti melihat di semua alam akan keluhuran dan kebesaran kami dengan jelas.
نــَحْــنُ الْــكِـــرَ امُ فَـــمَــنْ أَتــَانَـا قَــاصِـــدً
نَــالَ الــسَّـــعَـادَ ةَ عِـنـْدَ مـَـا يـَــلْــقَــانَـا
Kami adalah kaum dermawan, maka barangsiapa yang datang kepada kami dengan suatu kebutuhan,
Maka ia akan mendapatkan keinginannya dan kebahagiaan ketika ia menemui kami.
فَــانْـــهَــضْ بـِــعَـذِ مِ لا َ تـَـكُــوْ نُ مُــقَـــصِّـرً ا
وَ انْــظُـرْ تـَـرَ ى الْـعُـــشَّـاقَ حَــوْلَ حِـمَـانَـا
Maka bangkitlah dengan penuh semangat, dan janganlah bermalas-malasan,
Lihatlah orang-orang yang mencintai dan merindukan kami, terayomi di dalam benteng-benteng kami.
مُـسْــتَــبْـشِـرِ يـْنَ بِـــنَــيْـلِ مَـا قَــدْ أَ مَّــلــُــوْا
فَــرِ حِــــيـْنَ مُـذْ نَــظَـرُ و ا الْـجَـــمَـالَ عِـــيَـانَـا
Mereka mendapat kebahagiaan dengan datangnya kabar gembira,
bahwa mereka diberi segala yang mereka dambakan,
Mereka dilimpahi kegembiraan sejak mereka memperdulikan keindahan yang sejelas-jelasnya (Muhammad SAW).
هَـامُــوْ ا بِــعِـشْــقَــتِــهِـمْ سُــــكَـارَ ى عِــنْـدَ مَــا
كُــشِـفَ الْـحِــجَــابَ وَ شَـاهَــدُوا مَـغْــنَـانَـا
Maka pusatkanlah perhatianmu bersama apa yang menyibukkan mereka,
dan dengan apa-apa yang mereka rindukan,
Ketahuilah bahwa mereka itu telah terbuka baginya hijab ma’rifah dan mereka telah menyaksikan kemuliaan kami.
فَـهُـــمُ الْــمُرَ ادُ وَ لاَ يــُرَ ادُ سِـــــوَ ا هُـمُ
فَــالْـــقَــلْــبُ مُـشْـــتَـغِـلٌ بـِـــهِمْ وَ لْــهَــانَـا
Maka mereka adalah yang paling pantas untuk dituju, dan tiada lagi yang pantas dituju selain mereka,
Dan hati yang sibuk dengan selain urusan mereka, adalah hati yang pasti terpenuhi kebingungan.
كَرِّ رْ لـِـسَــمْـعِـى ذِ كْـرَ ا هُمْ وَ حَــدِ يــْـثَــهُمْ
تـَــعْـمَـلُ مَــعِـى بِــحَـــيـَـا تِـــهِـمْ إِحْـسَـــانَـا
Maka ulang-ulanglah untuk selalu memenuhi pendengaranmu dengan mereka dan perkataan mereka,
Dan sibuklah dengan beramal baik bersama-sama dalam kehidupan mereka.
يـَـا رَ بَّ مَــكَّـــةَ وَ الــصَّـــفَـا بـِمُـحَـــمَّـدٍ
اِ غْــفِـرْ لَــنـَـا يـَـا سَــا مِـعـًـا لِــدُ عَـانَـا
Maka Wahai Pemilik Makkah dan Bukit Shafa, demi Muhammad,
Ampuni dosa kami wahai yang selalu mendengar do’a kami.
ثــُــمَّ الــصَّـــــلا َةُ عَــلَـى الــنَّـــبِـى وَ آلــِــهِ
مَــا حَــرَّ كَـــتْ رِ يـْـــحُ الـصَّــبـَـا أ َغْــصَـانَـا
Lalu limpahan Shalawat atas Nabi dan Keluarganya,
Sebanyak hembusan angin di pagi hari
Al-Habib Hadi bin Abdullah Al-Haddar (BANYUWANGI)
Kabupaten Banyuwangim, sebuah kabupaten yang terletak paling ujung timur dari propinsi Jawa Timur selain terkenal sebagai kota santri juga di kabupaten ini terdapat seorang auliya’ yang setiap tahun haulnya diperingati dengan besar-besaran setiap hari ahad pagi minggu pertama bulan Muharam. Waliyullah itu adalah Habib Hadi bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Soleh Al-Hadar. Ia Lahir pada tahun 1908 M (1325H) di Banyuwangi. Habib Hadi dari kecil telah menunjukan akhak yang terpuji. Dari kanak-kanak ia telah menunjukan sikap-sikap yang baik. Dengan teman sepermainan tidak pernah mau mengganggu dan kalau pun diganggu, ia tidak pernah melawan.Pada umur sembilan tahun, ibunya yang bernama Syarifah Syifa binti Mustafa Assegaff meninggal. Ia kemudian oleh ayahnya Habib Abdullah bin Umar Al-Haddar dibawa ke Gathan, Hadramaut. Selama di negeri para auliya itu, Habib Hadi belajar dengan ulama-ulama setempat. Hari- hari diisinya dengan taklim dan mengaji.
Saat bulan Ramadhan tiba, masyarakat muslim Hadramaut menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah dengan waktu yang berbeda-beda, mulai dari lepas shalat isya sampai jelang waktu sahur. Habib Hadi tak ketinggalan ikut shalat tarawih berjamaah dari masjid yang satu ke masjid yang lainnya dari mulai lepas Isya sampai waktu jelang sahur. Kebiasaan ini membuat ayahanda Habib Hadi, Habib Abdullah bin Umar marah kepadanya.”Kamu ke sini bukan untuk beribadah. Kamu datang ke sini untuk menuntut ilmu. Jangan satu malam kamu habiskan untuk shalat tarawih.”
Padahal usianya pada waktu itu, baru 11 tahun, ayahnya meninggal. Habib Hadi kemudian tinggal bersama seorang adiknya, yakni Habib Muhammad. Saat itulah ia hidup sangat sederhana di Hadramaut, namun di tengah kesederhanaan itu, ia selalu mendahulukan adiknya. Kalau ia mendapatkan dua keping roti dan secangkir kopi tiap sehabis shalat berjamaah, dua keping roti dan secangkir kopi itu diberikan untuk adiknya dan ia lebih berpuasa. Demikian kecintaan yang luarbiasa untuk sang adik.
Habib Hadi dari kecil telah menjaga makanan yang dimakan dari sesuatu yang haram, bahkan yang diragukan (subhat). Pernah suatu ketika sang adik membawa buah-buahan, ia kemudian bertanya, ”Dari mana kamu dapat buah-buahan ini?”
Sang adik menjawab,”Saya memungut dari kebun sebelah.”
Mendengar jawaban dari sang adik, Habib Hadi marah kemudian ia memegang buah yang dibawa sang adik dan berkata, ”Kembalikan ke tempat yang kamu yang dapat.”
Sang adik pun akhirnya menuruti perintah sang kakak mengembalikan buah yang jatuh kepada sang pemilik kebun.
Demikianlah sedari kecil, Habib Hadi sangat menjaga makanan yang masuk ke perutnya. Sehingga ibadah sesuatu
Setelah ayahnya meninggal, Habib Hadi belajar dengan Habib Muhammad bin Hadi Assegaff di Seiwun. Habib Muhammad bin Hadi Seiwun ini adalah murid dari Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, sahibul maulid Simthud Durar. Selama di majelis Habib Muhammad ini, teman Habib Hadi selama belajar di sana adalah Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (ayahanda Habib taufik, Pasuruan).
Kalau malam, Habib Hadi bermunajat, berdzikir dan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT (qiyamul lail), sedangkan kalau siang hari ia berpuasa. Wajarlah melihat aktivitas ibadah dari Habib hadi telah terlihat sejak kecil, membuat sang guru, Habib Muhammad memberikan kedudukan yang istimewa di tengah murid-muridnya.
Dalam mengajar, Habib Muhammad selalu menyediakan tempat duduk di sampingnya dalam keadaan kosong, dan tidak pernah ada seorang pun dari murid-muridnya yang berani menempati tempat duduk yang kosong itu. Tempat duduk yang kosong itu adalah tempat duduk Habib Hadi bin Abdullah Al-Hadar.
Pada umur 20 tahun, Habib Hadi pulang ke Indonesia melalui pelabuhan Surabaya. Saat itu ia disambut oleh saudara-saudaranya yang saat itu sudah sukses di Surabaya, seperti Habib Ahmad (pemborong jalanan), Habib Muhamad (pedagang beras), Habib Mustafa (saudagar kopra). Tapi, Habib Hadi menolak semua sambutan yang meriah, ia menolak pakaian yang sudah dipersiapkan oleh saudara-saudaranya.
Melihat saudaranya yang sudah maju, Habib Hadi tidak terpikat untuk bergabung dengan saudara-saudaranya. Ia justru mampir ke tempat kenalannya yakni H. Abdul Aziz, seorang pedagang kain. Habib Hadi tiap hari berjualan sarung, kain batik di pasar. Melihat Habib Hadi jualan di pasar, saudara-saudaranya marah. Habib Hadi kemudian ditarik kerja di pelabuhan bagian menimbang kopra.
Akhirnya Habib Hadi, menurut perintah saudara-saudaranya kerja di pelabuhan. Namun, sebelum kerja di pelabuhan, ia sempat mampir ke pasar untuk membeli paesan (nisan untuk orang mati) dan selalu dibawa ke tempat kerja. Nisan yang terbuat dari kayu itu ditaruhnya di bawah timbangan dan selalu ditaburi bunga yang masih segar. “Saya kalau menimbang kopra selalu ingat nisan yang ada di bawah timbangan. Dengan mengingat nisan ini, saya selalu ingat akan mati, maka timbangannya harus pas. Karena yang saya timbang ini akan dipertanggungjawabkan, kelak di hari kiamat,” kata Habib Hadi mengomentari tingkahnya yang selalu membawa nisan saat bekerja.
Pernah ia dipindah ke bagian keuangan (kasir), suatu saat ia mengumpulkan uang yang rusak, palsu dan dikumpulkan semua. Dan akhirnya semua uang yang rusak itu dibuang ke laut. Melihat perilaku Habib Hadi, saudara-saudaranya sudah habis rasa kesalnya. Mereka marah dengan perilaku Habib Hadi.
Melihat ketidakcocokan dalam bekerja dengan saudara-saudaranya, Habib Hadi kemudian berhenti bekerja dan lebih banyak beribadah serta hadir di acara-acara haul para ulama dan habib yang tersebar di Pulau Jawa, mulai Habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi. Habib Hadi kembali berdagang kain untuk menghidupi keluarga. Uniknya dalam berdagang, ia selalu jujur mengatakan harga yang sebenarnya dari barang yang dijualnya kepada pembelinya.”Boleh kamu kasih ongkosnya, atau lebihkan sedikit dari barang ini,” kata Habib Hadi kepada para pembelinya.
KH Chasan Abdillah salah seorang ulama ternama di Glenmoore, Banyuwangi pernah berkata kepada Habib Hadi, ”Habib, anda tidak ditipu sama orang dengan berjualan seperti itu?”
“Biar orang-orang menipu saya. Yang penting, saya tidak menipu sama orang lain,” kata Habib Hadi kepada KH Chasan Abdillah.
Habib Hadi saat Banyuwangi dikenal sangat dekat dengan Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaff (Pasuruan). Saat itu Habib Ja’far mempunyai tasbih kesayangan yang diperoleh dari Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Tasbih itu ternyata adalah milik Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. “Siapa yang memegang tasbih ini akan membuat kenyang akan dzikrullah,” kata Habib Ja’far kepada orang-orang yang ada di majelis. Orang-orang berebut ingin mendapatkannya. Tapi Habib Ja’far bin Syaikhon mencegahnya.”Sebentar lagi orangnya akan datang.” Tak berapa lama kemudian Habib Hadi hadir di majelis, Habib Ja’far langsung bangkit dan mengalungkan tasbih kesayangannya ke leher Habib Hadi.
Saking dekatnya antara Habib Ja’far, kalau Habib Hadi datang, selalu diajaknya ke kamar dan dikunci. Sekalipun Habib Ja’far sedang ada pengajian atau tamu, Habib Hadi selalu diajaknya ke kamar khusus. Apa yang mereka perbincangkan, tidak ada yang tahu.
Habib Hadi wafat pada usia 65 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak (1 putra, 7 perempuan), pada Kamis, 4 Muharam 1393 H (8 Februari 1973). Jenazahnya kemudian dishalati dengan imam Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (Pasuruan) dan dimakamkan di komplek makam Blambangan, Lateng, Banyuwangi.
Saat bulan Ramadhan tiba, masyarakat muslim Hadramaut menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah dengan waktu yang berbeda-beda, mulai dari lepas shalat isya sampai jelang waktu sahur. Habib Hadi tak ketinggalan ikut shalat tarawih berjamaah dari masjid yang satu ke masjid yang lainnya dari mulai lepas Isya sampai waktu jelang sahur. Kebiasaan ini membuat ayahanda Habib Hadi, Habib Abdullah bin Umar marah kepadanya.”Kamu ke sini bukan untuk beribadah. Kamu datang ke sini untuk menuntut ilmu. Jangan satu malam kamu habiskan untuk shalat tarawih.”
Padahal usianya pada waktu itu, baru 11 tahun, ayahnya meninggal. Habib Hadi kemudian tinggal bersama seorang adiknya, yakni Habib Muhammad. Saat itulah ia hidup sangat sederhana di Hadramaut, namun di tengah kesederhanaan itu, ia selalu mendahulukan adiknya. Kalau ia mendapatkan dua keping roti dan secangkir kopi tiap sehabis shalat berjamaah, dua keping roti dan secangkir kopi itu diberikan untuk adiknya dan ia lebih berpuasa. Demikian kecintaan yang luarbiasa untuk sang adik.
Habib Hadi dari kecil telah menjaga makanan yang dimakan dari sesuatu yang haram, bahkan yang diragukan (subhat). Pernah suatu ketika sang adik membawa buah-buahan, ia kemudian bertanya, ”Dari mana kamu dapat buah-buahan ini?”
Sang adik menjawab,”Saya memungut dari kebun sebelah.”
Mendengar jawaban dari sang adik, Habib Hadi marah kemudian ia memegang buah yang dibawa sang adik dan berkata, ”Kembalikan ke tempat yang kamu yang dapat.”
Sang adik pun akhirnya menuruti perintah sang kakak mengembalikan buah yang jatuh kepada sang pemilik kebun.
Demikianlah sedari kecil, Habib Hadi sangat menjaga makanan yang masuk ke perutnya. Sehingga ibadah sesuatu
Setelah ayahnya meninggal, Habib Hadi belajar dengan Habib Muhammad bin Hadi Assegaff di Seiwun. Habib Muhammad bin Hadi Seiwun ini adalah murid dari Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, sahibul maulid Simthud Durar. Selama di majelis Habib Muhammad ini, teman Habib Hadi selama belajar di sana adalah Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (ayahanda Habib taufik, Pasuruan).
Kalau malam, Habib Hadi bermunajat, berdzikir dan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT (qiyamul lail), sedangkan kalau siang hari ia berpuasa. Wajarlah melihat aktivitas ibadah dari Habib hadi telah terlihat sejak kecil, membuat sang guru, Habib Muhammad memberikan kedudukan yang istimewa di tengah murid-muridnya.
Dalam mengajar, Habib Muhammad selalu menyediakan tempat duduk di sampingnya dalam keadaan kosong, dan tidak pernah ada seorang pun dari murid-muridnya yang berani menempati tempat duduk yang kosong itu. Tempat duduk yang kosong itu adalah tempat duduk Habib Hadi bin Abdullah Al-Hadar.
Pada umur 20 tahun, Habib Hadi pulang ke Indonesia melalui pelabuhan Surabaya. Saat itu ia disambut oleh saudara-saudaranya yang saat itu sudah sukses di Surabaya, seperti Habib Ahmad (pemborong jalanan), Habib Muhamad (pedagang beras), Habib Mustafa (saudagar kopra). Tapi, Habib Hadi menolak semua sambutan yang meriah, ia menolak pakaian yang sudah dipersiapkan oleh saudara-saudaranya.
Melihat saudaranya yang sudah maju, Habib Hadi tidak terpikat untuk bergabung dengan saudara-saudaranya. Ia justru mampir ke tempat kenalannya yakni H. Abdul Aziz, seorang pedagang kain. Habib Hadi tiap hari berjualan sarung, kain batik di pasar. Melihat Habib Hadi jualan di pasar, saudara-saudaranya marah. Habib Hadi kemudian ditarik kerja di pelabuhan bagian menimbang kopra.
Akhirnya Habib Hadi, menurut perintah saudara-saudaranya kerja di pelabuhan. Namun, sebelum kerja di pelabuhan, ia sempat mampir ke pasar untuk membeli paesan (nisan untuk orang mati) dan selalu dibawa ke tempat kerja. Nisan yang terbuat dari kayu itu ditaruhnya di bawah timbangan dan selalu ditaburi bunga yang masih segar. “Saya kalau menimbang kopra selalu ingat nisan yang ada di bawah timbangan. Dengan mengingat nisan ini, saya selalu ingat akan mati, maka timbangannya harus pas. Karena yang saya timbang ini akan dipertanggungjawabkan, kelak di hari kiamat,” kata Habib Hadi mengomentari tingkahnya yang selalu membawa nisan saat bekerja.
Pernah ia dipindah ke bagian keuangan (kasir), suatu saat ia mengumpulkan uang yang rusak, palsu dan dikumpulkan semua. Dan akhirnya semua uang yang rusak itu dibuang ke laut. Melihat perilaku Habib Hadi, saudara-saudaranya sudah habis rasa kesalnya. Mereka marah dengan perilaku Habib Hadi.
Melihat ketidakcocokan dalam bekerja dengan saudara-saudaranya, Habib Hadi kemudian berhenti bekerja dan lebih banyak beribadah serta hadir di acara-acara haul para ulama dan habib yang tersebar di Pulau Jawa, mulai Habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi. Habib Hadi kembali berdagang kain untuk menghidupi keluarga. Uniknya dalam berdagang, ia selalu jujur mengatakan harga yang sebenarnya dari barang yang dijualnya kepada pembelinya.”Boleh kamu kasih ongkosnya, atau lebihkan sedikit dari barang ini,” kata Habib Hadi kepada para pembelinya.
KH Chasan Abdillah salah seorang ulama ternama di Glenmoore, Banyuwangi pernah berkata kepada Habib Hadi, ”Habib, anda tidak ditipu sama orang dengan berjualan seperti itu?”
“Biar orang-orang menipu saya. Yang penting, saya tidak menipu sama orang lain,” kata Habib Hadi kepada KH Chasan Abdillah.
Habib Hadi saat Banyuwangi dikenal sangat dekat dengan Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaff (Pasuruan). Saat itu Habib Ja’far mempunyai tasbih kesayangan yang diperoleh dari Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Tasbih itu ternyata adalah milik Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. “Siapa yang memegang tasbih ini akan membuat kenyang akan dzikrullah,” kata Habib Ja’far kepada orang-orang yang ada di majelis. Orang-orang berebut ingin mendapatkannya. Tapi Habib Ja’far bin Syaikhon mencegahnya.”Sebentar lagi orangnya akan datang.” Tak berapa lama kemudian Habib Hadi hadir di majelis, Habib Ja’far langsung bangkit dan mengalungkan tasbih kesayangannya ke leher Habib Hadi.
Saking dekatnya antara Habib Ja’far, kalau Habib Hadi datang, selalu diajaknya ke kamar dan dikunci. Sekalipun Habib Ja’far sedang ada pengajian atau tamu, Habib Hadi selalu diajaknya ke kamar khusus. Apa yang mereka perbincangkan, tidak ada yang tahu.
Habib Hadi wafat pada usia 65 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak (1 putra, 7 perempuan), pada Kamis, 4 Muharam 1393 H (8 Februari 1973). Jenazahnya kemudian dishalati dengan imam Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (Pasuruan) dan dimakamkan di komplek makam Blambangan, Lateng, Banyuwangi.
JADWAL HAUL HABAIB SEJAWA
NO
|
NAMA | BULAN | TEMPAT |
| 1. | Habib Hadi Bin Abdullah Al-Haddar | Minggu, 1 Muharram | Lateng Banyuwangi |
| 2. | Fakhrul Wujud Syekh Abubakar Bin Syalim | Muharram | Cidodol Jakarta Selatan |
| 3. | Habib Abubakar Bin Husein Assegaf | 27 Muharram | Bangil Pasuruan |
| 4. | Habib Husein Bin Hadi Al-Hamid | 12 Shafar | Brani Probolinggo |
| 5. | Habib Abdullah Bin Ali Al-Haddad | 27 Shafar | Bangil Pasuruan |
| 6. | Habib Hasan Bin Muhammad Al-Hadad | Shafar Minggu Terakhir | Kota, Jakarta Utara |
| 7. | Do’a Tolak Bala dan Maulid di Pon-Pes Darul Hadist Alfagihiyah | Shafar Rabu Terakhir | Alun-alun Malang |
| 8. | Habib Abdul Qadir Bib Alwi Assegaf | Rabiul Awal, Minggu Pertama | Tuban |
| 9. | Maulid di Makam Habib Ahmad Al-Haddad | Rabiul Awal Minggu Pertama Sore | Habib Kuncung Kalibata |
| 10. | Habib Ali Bin Husein Al-Atthas | Rabiul Awal, Selasa Terakhir | Buluh Condet Jakarta |
| 11. | Habib Abdullah Bin Muchsin Al-Atthas. (Selasa malem Maulid, Rabu pagi Haul ) | Rabiul Awal Rabu Terakhir | Empang bogor |
| 12. | Maulid di Habib Abubakar Assegaf | Rabiul Awal Jum’at Pertama | Gresik |
| 13. | Maulid di Habib Muhammad Al-Aydrus | Rabiul Awal Jum’at Pertama | Ketapang Kecil Surabaya |
| 14. | Habib Ali Bin Abdulrahman Al-Habsyi (Rabu sore Ziarah, Kamis sore maulid) | Rabiul Awal Rabu Terakhir | Kwitang Jakarta Pusat |
| 15. | Maulid di Darul Aitam | Rabiul Awal Jumat Pagi | Tanah Abang Jakarta |
| 16. | Habib Muchsin Bid Muhammad Al-Atthas (Haul & Maulid) | Rabiul Awal Sabtu Pagi | Alhawi Condet Jakarta |
| 17. | Maulid di Habib Ahmad Al-Atthas | 15 Malam Rabiul Awal | Pekalongan |
| 18. | Habib Salim Bin Ahmad Bin Zindan | Rabiul Awal Senin Sore | Otista Jakarta Timur |
| 19. | Maulid di Habib Abdulrahman Assegaf | Rabiul Awal Minggu Pagi | Al Busro Citayam |
| 20. | Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsyi (Simthuduror) | 20 Rabiul Tsani | Gurawan Solo |
| 21. | Habib Muhammad Bin Idrul Al-Habsyi | 22 Rabiul Tsani | Ampel Surabaya |
| 22. | Habib Muhammad Bib Ahmad Al-Muhdhor | 22 Rabiul Tsani | Ampel Surabaya |
| 23. | Habib Abubakar Bin Syofi Al-Habsyi | 22 Rabiul Tsani | Ampel Surabaya |
| 24. | Habib Idrus Bin Abubakar Al-Habsyi | 22 Rabiul Tsani | Ampel Surabaya |
| 25. | Habib Umar Bin Abdulrahman Al-Atthas | 23 Rabiul Tsani | Petamburan Jakarta |
| 26. | Habib Alwi Bin Salim Al-Aydrus | 23 Rabiul Tsani | Tanjung Malang |
| 27. | Habib Umar Bin Hud Al-Atthas | 29 Rabiul Tsani | Cipayung Jawa Barat |
| 28. | Habib Muhammad Bin Husein Al-Aydrus | Jumadil Awal Kamis Terakhir | Ketapang Kecil Surabaya |
| 29. | Habib Ahmad Bin Abdullah Al-Aydrus | Jumadil Akhir Minggu Pertama | Benhil Jakarta Pusat |
| 30. | Habib Husein Bin Muhammad Al-Haddad | Jumadil Akhir Sabtu Ketiga | Ampel Surabaya |
| 31. | Habib Ja’far Bin Syekhon Assegaf | Jumadil Akhir Minggu Ketiga | Masjid Jami’ Pasuruan |
| 32. | Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Bilfaqih | Jumadil Akhir Minggu Terakhir | Alun-alun Malang |
| 33. | Habib Abdullah Bin Abdul Qodir Bilfaqih | Jumadil Akhir Minggu Terakhir | Alun-alun Malang |
| 34. | Habib Muhammad Bin Thohir Ba’bud | Rajab Minggu Pertama | Ds.Paleng Ploso Kediri |
| 35. | Khataman Bukhari di Habib Ahmad Al-Atthas | 12 Rajab | Pekalongan |
| 36. | Khataman Bukhari di Masjid Al-Hawi | 26-27 Rajab | Condet Cililitan Jakarta |
| 37. | Khataman Bukhari di Habib Abubakar Assegaf | Rajab Jum’at Terakhir | Grasik Surabaya |
| 38. | Habib Syeh Bin Salim Al-Atthas | 27 Rajab | Tipar Sukabumi |
| 39. | Habib Muhdor Bin Muhammad Al-Muhdor | 29 Rajab | Bondowoso |
| 40. | Habib Balawi, Al-Syathiri, Al-Qudsi | 10 Sya’ban | Kp.Bandan Jakarta Utara |
| 41. | Habib Ahmad Bin Tholib Al-Atthas | 14 Sya’ban | Pekalongan |
| 42. | Habib Muhammad Bin Thohir Al-Haddad | 15 Sya’ban | Tegal |
| 43. | Habib Muhammad Bin Abdulrahman Assegaf | 16 Pagi Sya’ban | Indramayu Jawa Barat |
| 44. | Habib Ali Bin Abdulrahman Al-Habsyi (Ziarah dimakam Habib Ali, Besoknya Haul) | Sya’ban Sabtu Ketiga | Kwitang Jakarta Pusat |
| 45. | Habib Salim Bin Thoha Al-Haddad | Sya’ban Jum’at Terakhir | Damai Kalibata |
| 46. | Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad | Sya’ban Minggu terakhir | Rawajati Kalibata |
| 47. | Habib Syech Bin Ahmad Bafaqih | Syawal Kamis Kedua | Boto Putih Surabaya |
| 48. | Habib Umar Bin Ja’far Assegaf | 5 Syawal | Cibeduk Tapos Jawa Barat |
| 49. | Habib Sholeh Bin Muchin Al-Hamid | Syawal Minggu Kedua | Tanggul Jember |
| 50. | Habib Ahmad Bin Ali Bafaqih | Syawal Sabtu Terakhir | Ds. Tempel Yogyakarta |
| 51. | Habib Husein Bib Abubakar Al-Aydrus | Syawal Minggu Terakhir | Luarbatang Jakarta Utara |
| 52. | Majlis Burdah Habib Muhammad Al-Aydrus | Syawal Kamis Kedua | Ketapang Kecil Surabaya |
| 53. | Habib Alwi Bin Muhammad Assegaf | 10 Dzulhijah | Gresik Kota Surabaya |
| 54. | Habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf | 17 Dzulhijah | Masjid Jami’ Gresik |
| 55. | Habib Harun Bin Abdullah Baharun | 17 Dzulhijah | Sumur Songo Gresik |


.jpg)
